Selasa, 23 Januari 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Pelajaran dari Alam

Minggu, 7 Januari 2018
Oleh: KH. Syukriadi Sambas

MRB - Segala sesuatu yang kita saksikan di alam ini, baik benda-benda atau lainnya yang terpahami melalui pintu-pintu indra atau pun mata batin, di balik itu semua mengandung pelajaran, diantaranya: 1. Dalaailun wasyawaahidun ala tauhidul haq, yaitu sebagai tanda-tanda atau simbol dan bukti pasti bahwa di balik itu semua ada yang Maha Pengada yaitu Allah Yang Maha Esa. 2. Daalatun ‘alaa kamaali qudrotillahi wahikmatihi, yaitu menunjukan atas sempurnanya kemahakuasaan Allah dan di dalamnya ada nilai manfa’at bagi semua makhlukNya. 3. Dalaailu tauhiidina ‘alaa wahdati dzaatina al dzahirah, yaitu menunjukan hanya satu-satunya Pencipta, yaitu Allah baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya atau af’al-Nya.

Macam-macam penciptaan Allah itu pada garis besarnya terbagi dua, yaitu ayat fil afak (ufuk) dan ayat fii anfus (diri). Hal ini antara lain dijelaskan dalam al-Qur’an: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”(Q.S. Fushilat:53-54)

Sering kali manusia merasa bahwa dirinya tidak ada yang menciptakan. Merasa tidak ada hubungannya antara yang ia saksikan di luar dirinya dengan Allah Yang Maha Pencipta. Oleh sebab itu, pada ayat di atas dijelaskan secara tegas bahwa segala sesuatu itu diciptakan Allah. Demikian juga banyak manusia ragu akan adanya alam barzakh dan alam akhirat, maka di sini juga ditegaskan bahwa setelah kematian nanti akan berjumpa dengan Allah.

Allah juga menjelaskan perihal penciptaan makrokosmos yang kehebatannya mungkin tidak terjangkau nalar manusia. Tetapi tetap pengabdian hanya kepada Allah. Firman-Nya: “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”(Q.S. Fushilat:37)

Matahari, bumi dan bulan itu tidak akan kekal. Firman Allah: “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. Ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?" Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat lari?”(Q.S. al-Qiyamah:1-10)

Bagaimana kita menyikapi keberadaan semua ciptaan Allah ini? Allah menegaskan: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”(Q.S. al-Furqan:61-62) Pada ayat ini dijelaskan ada dua sikap yang harus ada pada manusia, yaitu mengambil pelajaran dan bersyukur.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari alam ini serta bersyukur kepada Allah SWT.*** Dr. KH. Syukriadi Sambas, M.Si. adalah wakil imam besar Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.


BAGIKAN
BERI KOMENTAR