Rabu, 21 Februari 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiah

Intisari Ibadah

Kamis, 8 Februari 2018
Oleh: Prof. Dr. Akhsin Sakho

MRB - Doa bagai senjata bagi orang beriman. Doa juga merupakan intisari ibadah. Saat segenap upaya telah kita maksimalkan, kala kondisi semakin menghimpit, doa menjadi kekuatan. Ketika kepasrahan total lewat munajat kepada Allah SWT hadir, saat itulah kita sedang menunjukkan diri sebagai makhluk yang sangat lemah.

Intisari ibadah dan membutuhkan kekuatan Allah SWT adalah makna dari doa. Doalah yang dapat mengubah qada dan qadar yang bersifat mualaq. Contohnya, seseorang yang divonis berumur pendek, karena terus memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh, bisa mendapatkan umur panjang. Namun begitu semua ketetapan tetap dikembalikan kepada Allah SWT.

Tugas manusia hanya berikhtiar mendapatkan hasil dan menyempurnakan dengan doa. Keduanya harus berjalan dengan seimbang dilakukan oleh umat muslim.

Doa telah ada sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Setiap nabi memiliki doa yang berbeda-beda. Doa-doa para nabi jelas tertulis dalam Al-Quran dan dapat diamalkan oleh umat muslim. Doa para nabi memiliki keampuhan luar biasa karena selalu dikabulkan oleh Allah SWT.

Seperti doa Nabi Adam yang memohon untuk diampuni dosa-dosanya, doa Nabi Nuh yang memohon untuk mengazab umatnya yang kafir, doa Nabi Musa untuk memiskinkan Firaun, doa Nabi Ibrahim yang meminta keturunan saleh, dan doa-doa Nabi Muhammad SAW saat Perang Badar.*** Prof. Dr. Akhsin Sakho adalah Rektor Institut Ilmu Qur'an/IIQ.


BAGIKAN
BERI KOMENTAR